Skip to main content

Menakjubkan Puncak Rore Kautimbu: Menjelajahi Surga Alam Sulawesi Tengah

Pagi itu, udara di Danau Tambing terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis menggantung di atas permukaan danau, seolah memberi isyarat bahwa perjalanan hari ini bukan perjalanan biasa. Di hadapan kami terbentang hutan lebat kawasan Taman Nasional Lore Lindu — sunyi, liar, dan penuh misteri.

Tujuan kami satu, Puncak Rore Kautimbu, atau yang dikenal sebagai Gunung Lore Katimbu, atap Sulawesi Tengah di ketinggian sekitar 2.400 mdpl.

Saya berdiri sejenak memandang danau yang tenang. Rasanya sulit percaya bahwa beberapa jam ke depan, kami akan meninggalkan ketenangan itu untuk menantang tanjakan panjang yang terkenal tanpa ampun.


Jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WITA ketika langkah pertama kami menembus jalur setapak. Tidak ada trek landai untuk pemanasan. Jalur langsung menanjak, seakan-akan gunung ingin menguji keseriusan siapa pun yang berniat mendekat.

Akar-akar pohon besar menjalar di permukaan tanah. Di antara lumut dan dedaunan basah, sepatu kami harus benar-benar berhati-hati mencari pijakan. Hutan di Lore Lindu bukan sekadar hutan—ia hidup. Suara burung terdengar bersahutan. Sesekali ranting patah mengingatkan bahwa kami hanyalah tamu di rumah alam yang megah ini.

Beberapa kali saya berhenti, bukan hanya karena lelah, tetapi karena ingin menikmati detik-detik itu. Udara pegunungan yang bersih memenuhi paru-paru. Setiap tarikan napas terasa segar dan jujur.

Dua jam pertama terasa seperti pemanasan panjang tanpa jeda. Tanjakan terus menerus membuat paha mulai bergetar. Percakapan perlahan berubah menjadi diam, digantikan suara napas yang berat.

Akhirnya kami tiba di titik yang dikenal sebagai Helipad (±2.029 mdpl). Area ini sedikit lebih terbuka. Cahaya matahari berhasil menembus sela pepohonan, menciptakan kilauan hangat di antara kabut yang perlahan menipis.

Kami duduk melingkar, membuka bekal, dan saling tersenyum. Tidak ada yang berbicara tentang menyerah. Semua tahu perjalanan masih panjang.

Dari titik ini, pemandangan perbukitan Lore Lindu mulai terlihat. Hutan hijau membentang seperti lautan tak bertepi. Rasanya kecil sekali berada di tengah bentang alam sebesar ini.Perjalanan berlanjut. Jalur semakin terjal. Vegetasi berubah—pepohonan tinggi mulai jarang, digantikan semak dan tumbuhan pegunungan yang lebih rendah.

Angin mulai terasa menusuk. Kabut turun perlahan, membungkus kami dalam dingin yang tak terduga.

Ketika tiba di Puncak Dingin (±2.309 mdpl), nama itu benar-benar terasa maknanya. Tangan mulai kaku. Nafas mengembun di udara. Kami berdiri berdampingan, memandangi kabut yang bergerak pelan seperti tirai alam.

Di titik ini, saya bertanya dalam hati: “Mengapa kita selalu kembali ke gunung, meski tahu jalannya berat?”Mungkin jawabannya sederhana: karena di gunung, kita menemukan diri sendiri dari Puncak Dingin ke puncak utama, perjalanan terasa lebih sunyi. Energi terkuras, percakapan semakin jarang. Yang terdengar hanya deru angin dan langkah kaki di atas tanah berbatu.

Kabut sesekali membuka jalan pandang, lalu menutupnya kembali. Seolah puncak ingin menyembunyikan diri, memastikan hanya yang bersungguh-sungguh yang boleh melihatnya.

Dan akhirnya, setelah hampir sepuluh jam berjalan, kami tiba di titik tertinggi: Puncak Rore Kautimbu (Gunung Lore Katimbu).

Tidak ada teriakan berlebihan. Tidak ada selebrasi besar. Hanya senyum panjang dan tatapan haru ke arah cakrawala.Di Atap Sulawesi Tengah

Perlahan, kabut tersibak. Hamparan hutan tropis terbentang luas di bawah sana. Bukit-bukit hijau terlihat seperti gelombang yang membeku. Angin berembus kencang, membawa aroma tanah dan dedaunan basah.

Di ketinggian 2.400 mdpl itu, saya merasa sangat kecil, namun sekaligus sangat hidup.

Gunung Lore Katimbu bukan gunung tertinggi di Indonesia. Tapi di sini, di jantung Sulawesi Tengah, ia adalah mahkota yang sunyi. Ia tidak menawarkan kemewahan jalur populer atau keramaian pendaki. Ia menawarkan keaslian.

Dan mungkin itu yang membuatnya istimewa.

Turun dengan Hati yang Penuh

Perjalanan turun selalu berbeda. Kaki terasa lebih ringan, meski lutut mulai mengeluh. Hutan yang tadi terasa menakutkan kini terasa akrab.

Saat kembali melihat permukaan Danau Tambing yang tenang, perasaan syukur mengalir begitu saja. Kami kembali dengan tubuh lelah, namun hati penuh cerita.

Pendakian ke Puncak Rore Kautimbu bukan hanya tentang mencapai 2.400 mdpl. Ia tentang kebersamaan, ketekunan, dan dialog sunyi dengan alam.

Di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, gunung ini berdiri sebagai pengingat bahwa alam Sulawesi masih menyimpan keajaiban yang belum banyak tersentuh.

Jika suatu hari Anda berdiri di tepian Danau Tambing dan memandang hutan di depannya, mungkin Anda akan merasakan panggilan yang sama seperti yang saya rasakan pagi itu.

Panggilan untuk melangkah.

Panggilan untuk mendaki.

Panggilan untuk menemukan diri sendiri di atap Sulawesi Tengah.

Comments